Muktamar III IAEI

Muktamar III IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam)dan seminar Ekonomi Islam, dok. Jakarta, 30 April 2015.

IAEI

“Dewan Pimpinan Pusat IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia) Periode 2015-2019”

International Conference on Quality Islamic Higher Education, Jakarta

International Conference on Quality Islamic Higher Education, Diselenggarakan oleh UIN Malang dan UIN Jakarta.

ISESCO

Delegasi RI (Prof. Mansur BAN-PT, Bapak Mizan Kemenag, Dr. HA. Muhtadi Ridwan UIN Malang)di forum para menteri pendidikan tinggi dari 52 negara muslim pada event International conference of research and technologi, ISESCO

Konvensi Kampus IV dan Temu Tahunan Ke-10

Konvensi Kampus IV dan Temu Tahunan Ke-10, Forum Rektor Indonesia 2007, Dok. 16-17 Juli 2007, ITB Bandung.

Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Juni 2013

LEARNING ORGANIZATION


naskah ini
berupa catatan untuk halal bihalal PMII Rayon Hatta
Di Masjid Ulul Albab UIN Maliki Malang
18 September 2012
sengaja saya send, barangkali dapat dipakai bahan renungan bagi siapa saja yang sedang mempunyai tugas dan wewenang menata dan menghidupkan organisasi dan/atau lembaga, instansi, dll.

Senin, 11 Maret 2013

PENDIDIKAN YANG NGU-WONG-KÉ

 PENDIDIKAN YANG NGU-WONG-KÉ

Howard Gardner, ahli pendidikan paling terkemuka dari Harvard University dalam buku mutakhirnya yang berjudul Truth, Beauty, and Goodness Reframed, Educating for the Virtues in the Twenty First Century seolah menyesali pemikiran-pemikiran pendidikannya sendiri yang terdahulu. Pemikiran terdahulu dia yang sangat revolusioner di dunia pendidikan adalah paradigma kecerdasan majemuk (multiple intelligences).

TREND GERAKAN MAHASISWA , DULU SAMPAI SEKARANG

Mahasiswa adalah elemen yang tak akan pernah terpisahkan dari perjalan peradaban sebuah bangsa. Sejarah di dunia ini, baik di Barat maupun di Timur, telah menjadi bukti idealisme, kepeloporan, pemikiran kritis, konsistensi semangat perubahan, dan pergerakannya yang melekat pada sosok mahasiswa telah banyak banyak mewarnai peradaban negeri di berbagai belahan dunia.
Tidak terkecuali Indonesia. Kemerdekaan bangsa Indonesia atas kolonialisme yang telah berlangsung hampir 3,5 abad lamanya, merupakan buah dari kerja keras para tokoh muda yang lahir dari komunitas kampus. Bung Karno, Bung Hatta, HOS Cokroaminoto, dll. adalah motor penggerak rakyat Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya.

SEMUA HARUS KREATIF

Benarkah kreativitas tidak memiliki nilai tambah ?. Kita tahu masih ada anggapan bahwa kreativitas sebagai pemborosan dan “arena buang-buang waktu”. Kalau bukan pemborosan, ada yang masih melihat bahwa kreativitas atau inovasi adalah bagian orang-orang yang tidak serius dan berdisiplin, justru kadang dianggap sebagai “gangguan” buat orang tertentu yang tidak suka orang lain sukses. Paradigma inilah yang sering menyebabkan banyak orang tidak meyakini bahwa kreativitas perlu mendapat tempat terdepan dalam pencarian solusi terhadap permasalahan di tempat kerja.

Bila kita berpikir bahwa kreativitas hanya salah satu feature dalam kegiatan berpikir, kita perlu membuka mata lebih lebar. Mekanik mobil harus menemukan cara mendeteksi kerusakan mesin, yang tidak dipelajari dengan sistem problem solving di sekolah. CEO yang terkenal kekuatannya dalam mengotak-atik angka keuangan, pada saatnya perlu menggunakan kreativitasnya untuk memahami problem yang komplek. Seorang dosen senior yang dikenal kekuatan intelektiualnya, pada saatnya perlu menggunakan kreativitasnya untuk memahami potensi dan problem mahasiswanya. Mahasiswa yang dikenal tinggi motivasi belajarnya, pada waktunya perlu menggunakan kreativitasnya untuk memahami kebutuhannya di tengah pengaruh internal/eksternal yang sangat kuat.

Jelas bahwa kreativitas ada di dalam setiap situasi. Kita perlu meyakini betapa suatu lembaga, organisasi, dan atau perguruan tinggi tidak bisa berjalan tanpa berkreativitas. Kita bisa menyaksikan ada perusahaan, bisa tiba-tiba menjadi “gajah bengkak” karena tidak membudayakan kreativitas. Pola pikir tidak mementingkan budaya kreativitas sungguh akan melahirkan mental “tidak bisa” yang membunuh. Perusahaan seperti GE yang demikian sukses di abad ke-20 lalu, sekarangpun berkiprah ke “kepedulian lingkungan dan inovasi ecomagination”, serta masih harus membuktikan apakah usahanya akan mencetak laba dan membuat perusahaannya bisa se-sexy Apple. Fenomena ini membuktikan bahwa kreativitas dan inovasi tidak bisa berbentuk lip service, basa-basi, atau setengah-setengah.

Sebagai contoh tentang kreativitas tidak mempunyai nilai tambah adalah kisah Peter Thiel, dengan kesungguhan hati meninggalkan profesinya sebagai advokat untuk kepentingan menciptakan PayPal dengan pemikiran matang yang dielaborasi secara tuntas. Hasilnya, Thiel sekarang menjadi pemegang saham terbesar dari perusahaan perusahaan bergengsi lain seperti Facebook, dan sebagai dosen mata kuliah creative economy di Stanford. Contoh lain tentang kreativitas sebagai kunci sukses juga sudah dibuktikan oleh Cirque du Soleil yang mengubah sirkus binatang yang hampir mati, menjadi ajang show musikal dan tari manusia berbakat.

Pertanyaannya sekarang adalah; apakah di lembaga kita (lembaga dimana kita berada) sudahkah ada upaya serius yang dilakukan untuk memotivasi dan atau memberi peluang warganya agar selalu melakukan terobosan baru, berinovasi, dan berkreasi. Kalau belum, maka kita harus sadar secepatnya untuk antara lain ; pertama, segera menciptakan pembiasaan diri untuk menciptakan budaya kreatif, yaitu dengan cara menyebar “spirit can do”, yaitu tidak ada kata “tidak bisa”. Kedua, menumbuhkan keyakinan bahwa kesalahan adalah cara untuk merangsang kreativitas atau inovasi. Ketiga, menggalakkan tradisi brainstorming sebelum mengambil keputusan. Kempat, menggalakkan “whole brain thinking” dengan menukar problem solver yang tidak sesuai bidangnya. 

Riset menunjukkan betapa kreativitas dan inovasi adalah keterampilan yang diasah dan dikembangkan, bukan dimiliki sejak lahir. Semakin sering kita melakukan benchmark, brainstorming, berdiskusi, dialog, maka semakin tajam kita saat membedah permasalahan kerja kita dengan sudut baru, dan sudah diduga keputusan yang kita ambil akan melegakan dan atau memuaskan banyak pihak. Bukankah prinsip “musyawarah” adalah tradisi baik sekaligus konsep ajaran agama kita (Islam) dalam setiap proses pengambilan keputusan.

Wallahu A’lam bi al-Shawab,
Malang, 21 Januari 2013
HA. Muhtadi Ridwan

Kamis, 07 Maret 2013

Mempersiapkan UIN MALIKI Malang Menuju World Class University (WCU)

Apa yang tersirat pada tema tulisan di atas sebenarnya bukan hanya euforia belaka dan bukan hanya latah karena perguruan tinggi lainnya juga sudah dan/atau sedang mempunya peringkat itu, tetapi lebih merupakan program prioritas yang menuntut segera digarap dengan sungguh-sungguh agar kampus kita tercinta (Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang) mempunyai kedudukan yang sama dengan perguruan tinggi besar lainnya sebagai real university.  Lebih dari itu, UIN MALIKI MALANG sebagai salah satu lembaga Islam mempunyai obsesi ingin menjadi lembaga yang mempunyai kedudukan pada posisi papan atas, menjadi pilihan yang pertama masyarakat. Cita-cita ini sebenarnya sudah muncul ketika diskusi (yang seringkali dilakukan secara informal) dalam penyusunan dokumen RENSTRA 10 TAHUN KE DEPAN STAIN MALANG (1998); yaitu setelah ada kebijakan pemerintah tentang alih status dari Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel di Malang ke STAIN Malang. Peluang besar yang tidak kita sia-siakan, karena di dalamnya terkandung aspek otonomi dalam pengelolaan dan pengembangan setelah sekitar 4 (empat) dekade (1961-1997) bergantung pada kebijakan IAIN Sunan Apel Surabaya sebagai induk lembaga.

Perguruan tinggi, seperti kita fahami bersama, mempunyai dua tugas pokok. Di satu fihak kita dituntut untuk mendidik para putera bangsa agar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang termutahkir, yang mengharuskan setiap perguruan tinggi untuk selalu mempersiapkan tenaga kependidikan yang terbaik serta fasilitas pendukung yang tercanggih. Di lain fihak, dalam konteks Indonesia, kita juga memiliki kewajiban sosial yang tidak kalah pentingnya, yakni menjadi lokomotif pembangunan umat, termasuk mempersiapkan anak didik kita untuk menjadi calon-calon pimpinan bangsa yang bermoral tinggi, berakhlaqul kariah, beradab dan berbudaya.

Persoalannya adalah seberapa siap kita melaksanakan tugas mulia ini ? Saya khawatir, berbagai kendala birokratis, perilaku kepemimpinan, budaya kerja warga kampus yang ada saat ini dalam merealisasikan program spektakuler tersebut justru membelenggu pemikiran-pemikiran yang menjangkau jauh ke depan. Mantan Menteri Pendidikan Dr. Daoed Joesoef, dalam salah satu tulisannya, menggambarkan bahwa sebagai bangsa kita menderita myopia temporal. Akibatnya, kita tidak mampu memahami masalah-masalah yang dihadapi bangsa dalam perspektif jangka panjang. Sebagai bangsa kita terjebak dalam carut-marut permasalahan saat ini dan lupa bahwa setiap tindakan yang kita lalukan untuk mengatasi permasalahan jangka pendek mempunyai dampak positif dan negatif di masa depan. Karena implikasi tindakan jangka panjang kurang dipertimbangkan, seringkali solusi jangka pendek berkembang menjadi masalah baru pada jangka panjang, sehingga menjadi beban generasi berikutnya.

Pada kurun waktu 10-15 tahun ke depan, perguruan tinggi Indonesia akan menghadapi berbagai tantangan besar yang perlu di respons dengan bijaksana. Globalisasi ekonomi dan revolusi teknologi informasi adalah dua kekuatan besar yang amat mempengaruhi dunia penguruan tinggi Indonesia. Kalau lembaga pendidikan tinggi nasional tidak mampu merespons tantangan globalisasi ini dengan memadai, diperkirakan lembaga tersebut akan tidak mampu mempertahankan eksistensinya di masyarakat dan secara pelan tetapi pasti akan kehilanganan peranannya. Mudah-mudahan ramalan yang pesimistis ini tidak perlu terjadi asal kita mampu mengembangkan strategi-strategi survival yang tepat.

Dunia pendidikan tinggi yang menganut faham universialisme ilmu pengetahuan dan teknologi sebenarnya selalu memperhatikan dan pertimbangan bahwa masyarakat pendidikan Indonesia adalah bagian dari masyarakat global. Proses seperti ini oleh Beck disebut globalitas yang sudah berlangsung sejak lama dalam dunia pendidikan maupun dalam perdagangan intenasional. Tetapi dalam perkembangan yang terjadi sejak 1970an globalisasi berkembang menjadi “the process through which sovereign national states are criss-crossed and undermined by transnational actors – governments or MNCs – with varying prospects of power, orientations, identitities, and networks”.

Dalam proses globalisasi tersebut, dua kekuatan yang amat menentukan adalah kemajuan atau bahkan revolusi teknologi khususnya dalam teknologi informasi dan bioteknologi yang dikuasai oleh perusahaan-perusahan yang memiliki dan menguasai modal finansial dan intelektual. Restrukturisasi sosial-ekonomi yang terjadi di negara-negara maju pada kurun waktu 1980an terjadi karena didorong oleh 2 kekuatan besar yakni kemajuan teknologi informasi dan keputusan perusahaan yang menguasai modal besar.
Kembali kepada persoalan, sebagai prasyarat yang harus mendapat perhatian semua pihak di kampus ini dalam kontek MEMPERSIAPKAN UIN MALIKI MALANG MENUJU WORLD CLASS UNIVERSITY (WCU) adalah;
  • Fokus terhadap gawe besar ini, karena issue dan perbincangan di hampir semua perguruan tinggi, baik dalam dan luar negeri selalu mengarah bagaimana perguruan tinggi yang diembannya masuk di daftar perguruan tinggi dunia. Satu hal yang harus dipahami setidaknya ada tiga hal yang menjadi fokus perbincangan dan diwujudkan dalam program prioritas, yaitu ; pertama, soal performance research sebagai core product perguruan tinggi; kedua, soal quality assurrance sebagai pengawal produk, dan yang ketiga soal branding sebagai upaya membangun pemahaman masyarakat terhadap UIN Maliki Malang.
  • Tidak cukup pada tataran perbincangan dan meletakkannya sebagai program prioritas, tetapi betul-betul dilakukan secara sungguh-sungguh dan tidak hanya sebagai kegiatan/program gagah-gagahan, dalam upaya untuk menjadikan UIN Maliki Malang  yang sudah menjadi harapan banyak pihak sebagai sentral pembangunan bangsa yang cerdas dan bermartabat.
  • Komitmen dan konsistensi semua pihak dalam rangka memegang amanat umat ini, mulai dari pimpinan universitas, pimpinan fakultas, pimpinan unit-unit, pimpinan mahasiswa, dan seluruh warga besar kampus ini, karena tanpa komitmen dan konsistensi tersebut mustahil program besar tersebut akan terwujud.
Tulisan ini sengaja saya buat sebagai bagian dari tanggungjawab moral untuk mengemban amanat umat yang mulia dan pengalaman keterlibatan saya pada proses pengembangan kampus kita tercinta ini. Dalam proses pengembangan tersebut seringkali saya merasakan masih ada beberapa keinginan besar yang belum dan/atau tidak bisa  direalisasikan secara maksimal, karena kurangnya komitmen yang sungguh-sungguh sehingga terjadi keterputusan komunikasi antar pihak terkait, program tidak/belum terencana secara baik,  masih sering terjadi tumpang tindih tanggungjawab (wilayah pekerjaan), dan yang ini mudah-mudahan tidak terjadi; niat/orientasi di luar target program, serta kurangnya pemahaman pentingnya program tersebut dibuat. Terlepas dari apa yang saya rasakan tersebut di atas, saya dan sudah barang semua pihak harus merapatkan jamaah yang betul-betul solid demi cita-cita besar kita untuk menjadikan kampus yang mempunyai 3 visi; unggul, unggul, dan unggul, mudah-mudahan Allah SWT., senantiasa bersama kita. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

IAEI: “FE UIN Malang, model ideal bagi FE PTAIN/s Se-Indonesia”

Meski Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, namun hingga saat ini penetrasi produk perbankan dan keuangan syariah masih  masuk dalam kategori rendah jika dibandingkan dengan produk keuangan konvensional. Hasil surveu BI menunjukan, 89 persen masyarakat Indonesia dapat menerima prinsip (ekonomi) syariah.  Namun, Indonesia belum mampu menempatkan diri sebagai pusat keuangan Islam global.


Pangsa pasar keuangan Islam Indonesia di dunia sekitar 3 %, sedangkan malaysia sebesar 23 % dengan penduduk muslim sebesar 28 juta jiwa (Republika, 12/11).  Walaupun, secara umum perkembangan perbankan dan keuangan syariah  mengalami trend pertumbuhan.  Di sisi lain, keuangan dan perbankan syariah memiliki daya imun cukup tinggi dari goncangan krisis keuangan global. Persoalan ini menjadi bahan pemikiran  berbagai kalangan baik akademisi, prakitisi, maupun kelembagaan  ekonomi  Islam (IDB).
Ragam factor menjadi sorotan berbagai  kalangan.  Mulai dari aspek teoritis, praktik, kelembagaan, hingga peran kebijakan politik pemerintah.

Pada tataran teoritis dan konseptual, Indonesia masih  sangat kekurangan pakar yang benar-benar mendalami secara utuh antara ilmu ushul fikh, fikih  muamalah, dan ilmu ekonomi/keuangan. Cukup sulit, untuk menemukan satu figure sempurna yang memiliki kemampuan utuh pada dua disiplin ilmu, faqih fiqih dan ekonomi.  Tidak hanya pada masyarakat Islam Indonesia, pun pada berbagai negara yang perkembangan ekonomi Islamnya cukup pesat.

Jamaknya, para pakar ekonomi cukup mumpuni pada ilmu ekonomi/keuangan namun awam dalam ushul fiqh  atau fiqh  muamalah. Sebaliknya,  tidak sedikit yang piawai  dalam fikih  dan usul-nya, tetapi memiliki  pengetahuan ilmu ekonomi/keuangan yang terbatas.

Inilah tantangan bagi PT yang telah membuka jurusan ekonomi/keuangan Islam, untuk bisa menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan integrative baik pada tataran fikh-usulnya dan ekonomi-keuangan.  Meski demikian, respon positif patut diberikan dimana mereka telah menangkap peluang pasar kebutuhan SDM lembaga keuangan-syariah yang cukup tinggi.

Keberadaan kelembagaan dan core kajian keilmuan tentu menjadi hal yang sangat penting untuk dapat menghasilkan SDM yang mumpuni dalam bidang ekonomi.  Saat ini, prodi /jurusan ekonomi-keuangan syariah cukup menjamur.  Khusus pada PTAIN/S, prodi/jurusan ekonomi-keuangan umumnya ada di bawah payung Fakultas Syariah, lebih spesifik konsentrasinya pada  fiqih muamalah.

“Berbeda halnya dengan UIN Maliki Malang” kata Dekan FE UIN Malang, Dr. H.A. Muhtadi Ridwan, menjelaskan.  Fakultas Ekonomi memayungi Jurusan Manajenmen, Akuntansi, dan Diploma Tiga Perbankan. Karena, dari aspek kajian teoritis-kurikulum, core fakultas ekonomi berbeda dengan fakultas syariah. Pada Fakultas Ekonomi rumpun keilmuannnya adalah ekonomi/bisnis dalam arti luas, sedangkan syariah masuk rumpun hukum, katanya menambahkan.

Kelembagaan ini tentu akan berpengaruh pada arah strategi pengembangan akademik-kurikulum, sumberdaya manusia, dan output yang dihasilkan. UIN Maliki Malang tidak menyebut ekonomi Islam karena sudah ada di bawah payung UIN (Universitas Islam Negeri Malang), yang secara otomatis memiliki  aspek kajian keilmuan integrative, memadukan antara saint dan agama.  Menurutnya, dalam Islam tidak ada dikotomi aspek keilmuan, termasuk ekonomi dan agama (Islam).

“UIN Malang berarti sudah tepat dan bisa jadi model PTAIN/S se-Indonesia.  Model inilah yang ideal dan kita inginkan” kata Pengurus Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) , Agustianto.
“Langkah kita sudah on the right track,  tinggal bagaimana mengembangkan dan mempertahankan kesinambungannya”  kata Direktur Pascasarjana UIN Maliki Malang, Prof. Dr. H. Muhaimin, menanggapi pernyataan Agustianto.

Simpulnya, dalam aspek kelembagan-akademik FE UIN Maliki Malang lebih siap untuk mencetak sumberdaya insan yang berkualitas, professional, memiliki basis kompetensi unggul, dan dibutuhkan pasar  industry keuangan saat ini.

“Apalagi jika didukung melalui kebijakan politik pemerintah sebagaimana yang ada di Malaysia, ekonomi-keuangan Islam tentu akan lebih cepat berkembang di Indonesia”, harap Muhtadi. (us).

Maliki Siapkan WCU

Persaingan antar perguruan tinggi secara internasional dalam era perdagangan bebas (globalisasi) menjadi sebuah keniscayaan. Dibutuhkan strategi tepat untuk meningkatkan kualitas mutu agar bisa sejajar dengan perguruan tinggi luar negeri. Penyertaan dalam peringkat World Class University (WCU) dapat digunakan sebagai standarisasi kesetaraan secara global. UIN Maliki Malang selama empat tahun kedepan menargetkan masuk dalam 150 besar WCU. Ini bukan isapan jempol. Berbagai tahapan rencana strategis (renstra) berhasil dijalankan secara fantastis.

Sesuai grand plan yang disusun jauh sebelumnya, UIN Maliki memiliki komitmen untuk memberikan pelayanan terbaik pada pelanggan (mahasiswa) dan stakeholders-nya hingga mampu bersaing di pasar global. Tentunya tidak lepas dari konsep Ulul Albab yang hendak diwujudkan. Perlahan namun pasti, UIN Maliki telah melangkah beberapa tahap untuk mencapai WCU. Hasilnya, predikat WCU bagi UIN Maliki diharapkan akan dapat dicapai dalam waktu lebih cepat.

“Kami memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk bisa masuk peringkat WCU. Perolehan akreditasi A Fakultas Ekonomi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) pada 2006-2007, akreditasi B dari BAN PT pada tingkat Universitas pada 2008, pemantapan lembaga melalui perolehan SK BLU (Badan Layanan Umum), dan perolehan ISO 9001:2000 dari SGS United Kingdom Ltd pada Januari 2008 sebagai embrio menuju WCU adalah bukti yang tak terbantahkan” kata Dekan Fakultas Ekonomi UIN Maliki Malang, Drs. H. Muhtadi Ridwan, MA.

Dengan memiliki SK BLU, perguruan tinggi memiliki otonomi dan independensi untuk mengelola aset dan keuangan secara mandiri. Berbagai inovasi PT diharapkan bisa lebih cepat meningkatkan kualitas dalam segala aspek baik manajerial, keuangan, pendidikan dan pembelajaran. Tanpa terkecuali, menjalin hubungan dengan PT baik dalam maupun luar negeri.

UIN Maliki Malang adalah satu-satunya PTN Islam, di bawah payung Depag, yang memperoleh ISO 9001:2000. Perolehan ISO 9001:2000 merupakan wujud pengakuan sistem manajemen mutu Maliki dengan standar internasional. Wajar, jika UIN Maliki menjadi tempat jujugan studi banding berbagai perguruan tinggi Islam yang ada di Indonesia. ISO 9001:2000 Maliki berlaku untuk periode 31 Desember 2008 hingga 15 Nopember 2010. Re certification harus dilakukan sebelum 24 Nopember 2011.

“Saat ini, ada dua pekerjaan yang harus diselesaikan yaitu konversi ISO 2000 menjadi ISO 2008 dan pencapaian sertifikasi Malcolm Baldrige Kriteria for Performance Excellence (MBCfPE)” kata penggagas renstra UIN Maliki menambahkan.

Bak gayung bersambut. Disaat UIN Maliki berbenah meningkatkan kinerja organisasi agar mampu bersaing secara global, Depag RI menyertakan UIN Maliki dalam program Malcolm Baldrige (MB). Selain UIN Maliki, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ikut serta dalam program ini.
MBCfPE adalah lembaga penjamin mutu internasional melalui penerapan sistem manajemen kinerja yang unggul (performance excellence). Kerangka kerja MBCfPE digunakan sebagai alat untuk mendiagnosa kinerja organisasi publik/perusahaan secara menyeluruh, selanjutnya umpan balik hasil diagnosa digunakan untuk menuntun perbaikan kinerja menuju performance excellence. Diagnosa diperoleh melalui proses assessment dalam bentuk feedback report mencakup “kekuatan” dan “kelemahan”, selanjutnya digunakan sebagai bahan masukan dalam membangun sistem yang unggul. Sistem yang dibangun harus terintegrasi, mampu mengatasi kelemahan, larut dalam kegiatan operasional, tidak tumpang tindih, evaluasi dan improvement yang sistematis serta fact base. Oleh karena itu, peran dokumen aplikasi yang menyajikan informasi secara lengkap, padat, terintegrasi dan sistematis mutlak diperlukan. Kriteria MB diperkenalkan oleh National Institut of Standard and Technologi (NIST) USA dan diundangkan oleh Public Law No. 100-107 sebagai nama penghargaan di Amerika dengan sebutan Malcolm Baldrige National Quality Award (MBNQA). Lebih dari 76 negara di dunia termasuk Asia dan Eropa telah mengadopsi kriteria MB sebagai standar penilaian kinerja yang unggul bagi organisasi publik/perusahaan.

Adapun kriteria MB terdiri dari tujuh kategori yaitu leadership, strategic planning, customer and market focus, measurement & analysis and knowledge management, workforce fokus, process management, dan results. Sedangkan klasifikasi penilaian terbagi dalam beberapa tingkatan/kelompok berdasarkan pada perolehan skor dari assessment. Mulai dari early development dengan skor 0-275 hingga world class leader dengan skor 876-1000.

Saat ini, telah dibentuk tim kecil untuk mengawal implementasi ISO dan menyusun pelaksaan program MB. Mulai dari penyusunan dasar anggaran, visitasi, sosialisasi MB, dan menentukan pihak ketiga (lembaga konsultan) yang akan disertakan dalam pelaksanaan program MB. Tim inti yang terdiri dari PR 1 dan Dekan FE mulai menggodok berbagai langkah pelaksanaan program sertifikasi MBCfPE.

“Kami menargetkan pelaksanaan program MBCfPE di UIN Maliki dapat tuntas dalam waktu dua tahun. Pelaksanaan program MB tidak akan terlaksana tanpa dukungan terintegrasi semua pihak terkait” kata Muhtadi Ridwan. Menurutnya, kendala yang cukup menjadi penghambat dalam pelaksanaan program ini adalah merubah watak (mainset) kinerja yang ada sesuai dengan kriteria MB. Namun, potensi pencapaian kualitas performance excellence sangat besar. Hal senada diungkapkan oleh Direktur Executif Program MB, Tunggul Simamora, kepada penggagas rensta di UIN Maliki Malang. Jika program MB bisa dijalankan dengan baik, akreditasi BAN PT, dan perolehan ISO 9001:2000 dapat dijadikan sebagai modal Maliki empat tahun ke depan untuk masuk dalam 150 besar WCU. Menyertai PTN lain yang lebih dulu masuk WCU seperti ITB, UGM, UI, UNDIP, IPB, UNAIR, dan ITS. Jadi bukan isapan jempol kan? (Khusnudin)

Peran Alumni Dibutuhkan Untuk Mewujudkan Visi Fakultas Ekonomi Uin Maliki Malang

Peran Alumni sangat dibutuhkan untuk mewujudkan visi dan misi sebuah perguruan tinggi terutama dalam membuka hubungan dengan masyarakat atau dunia usaha demi meningkatkan mutu lulusan berikutnya. Peran tersebut juga sangat strategis, karena alumni merupakan aset penting yang harus dirangkul dan dikembangkan sedini mungkin.

Satu hal yang perlu disadari dan menjadi sebuah keniscayaan, semua mahasiswa yang sukses menjalani masa pendidikan di perguruan tinggi pada akhirnya akan menjadi alumni. Artinya, salah satu indikator keberhasilan proses pendidikan dapat dilihat dari keberhasilan alumni dalam menjalankan peran mereka di jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun bidang pekerjaan yang mereka jalani secara profesional sesuai minat dan kemampuan. Ada beberapa peran yang dapat diaktualisasikan untuk mewujudkan visi dan misi FE UIN

Malaki Malang antara lain adalah :
Pertama, dalam kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan dan pengembangan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang produktif di fakultas, alumni dapat berperan sebagai katalis dengan memberikan berbagai masukan kritis dan membangun kepada almamater mereka.

Dalam hal ini, alumni memiliki posisi tawar yang unik dan strategis karena meskipun mereka tidak lagi merupakan bagian aktif dalam proses pendidikan di fakultas,, namun pengalaman mereka selama menjadi mahasiswa dan ikatan batin serta rasa memiliki mereka yang kuat terhadap almamater dapat menghasilkan dan menawarkan berbagai konsep, ide, pemikiran, masukan dan kritik membangun yang hanya bisa diberikan oleh orang-orang yang berada di posisi mereka.

Melalui berbagai media komunikasi yang dapat menjembatani fakultas dan alumni, proses pendidikan di fakultas diharapkan dapat berkembang dalam koridor yang lebih progresif dan terarah.

Kedua, sesuai peran alaminya, alumni yang berprestasi dan memiliki kompetensi yang mumpuni dapat memainkan fungsi penting dalam membangun opini publik untuk menarik minat calon mahasiswa baru. Alumni, disadari atau tidak, merupakan salah satu acuan utama yang mendasari keputusan para orang tua dan calon mahasiswa dalam menentukan pilihan Perguruan Tinggi.

Logikanya, jika alumni dari suatu insitusi pendidikan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dalam memasuki jenjang pendidikan tinggi favorit dan dapat menunjukkan prestasi dan kontribusi mereka secara riil di masyarakat, kualitas dan kuantitas calon mahasiswa yang berminat untuk mendaftar akan meningkat.
Mata rantai ini, dengan didukung oleh sistem pendidikan internal fakultas yang baik, akan menghasilkan kesinambungan kualitas sumber daya mahasiswa dan alumni yang berkualitas, memiliki daya juang tinggi dan semangat berkompetisi secara sehat.

Ketiga, Alumni, sebagai produk utama dari proses pendidikan juga diharapkan mampu mengembangkan jaringan dan membangun pencitraan insitusi di luar. Pengembangan jaringan oleh alumni merupakan potensi strategis untuk membuka berbagai peluang dan meningkatkan daya saing suatu almamater pendidikan karena manfaatnya yang akan berdampak secara langsung pada mahasiwa dan sesama alumni.

Penciptaan peluang usaha, kerja dan magang, kesempatan beasiswa, serta sirkulasi berbagai macam informasi penting seputar dunia pendidikan dan kerja merupakan beberapa contoh riil yang dapat dikontribusikan oleh alumni melalui jaringan yang dimiliki.

Dalam hal ini, salah satu wadah yang perlu ditumbuhkembangkan peran dan fungsinya serta didukung keberadaannya oleh pihak fakultas adalah IKATAN ALUMNI. Melalui pengorganisasian alumni secara profesional, berbagai macam peluang dan kesempatan akan dapat terkomunikasikan dengan baik.

Keempat, secara internal fakultas, keberadaan alumni di berbagai bidang usaha, lapangan pekerjaan dan institusi pendidikan dapat memberikan gambaran dan inspirasi kepada para mahasiswa, sehingga pada gilirannya dapat memotivasi mereka dalam menentukan prioritas dan cita-cita ke depan.
Salah satu contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan acara semacam “Studium Generale” oleh  para alumni, di bawah koordinasi angkatan yang baru lulus, kembali ke fakultas secara rutin setiap tahunnya untuk mengadakan presentasi, tatap muka, diskusi dan membuka stand konsultasi yang akan menjelaskan mengenai berbagai pilihan jurusan/program studi dan beberapa alternatif perguruan tinggi negeri dan swasta favorit kepada para mahasiswa yang akan studi lanjut, dengan sasaran utama mahasiswa semester akhir yang akan lulus. Para alumni yang telah bekerja juga diberikan kesempatan untuk dapat menjelaskan mengenai lingkup kerja mereka beserta tantangan yang dihadapi agar dapat memberikan gambaran mengenai dinamika dunia kerja.

Alumni merupakan salah satu elemen penting dari sekian banyak faktor-faktor penting lainnya yang berperan dalam meningkatkan kualitas dan kinerja suatu insitusi pendidikan. Namun, melihat potensi strategis dan luar biasa yang bisa digali dari keberadaan alumni, sudah saatnya pihak fakultas mulai merangkul kembali alumninya menyiapkan para mahasiswa dengan persiapan yang matang untuk dapat menjadi alumni yang memiliki dedikasi dan semangat yang tinggi untuk membesarkan almamaternya.

Kerjasama dan sinergi yang harmonis antara alumni dengan fakultas, mahasiswa, orang tua mahasiswa, dan masyarakat, termasuk institusi pengguna alumni (dunia usaha) akan memiliki dampak yang besar bagi pengembangan fakultas secara berkesinambungan di masa mendatang.

Atas nama pemegang amanah Managemen dan keluarga besar sivitas akademika Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyambut dengan senang hati dan mendukung sepenuhnya akan diselenggarakanya TEMU ALUMNI 2010 untuk semua angkatan besok pada hari Sabtu/25 Desember 2010 di kampus UIN Maliki Malang. Semoga event besar yang pertama kali gelar  dan mengusung tema MENYAMBUNG SILATURRAHIM KELUARGA BESAR FAKULTAS EKONOMI ini benar-benar sebagai langkah awal untuk membangun komitmen bersama demi muwujudkan visi dan misi Fakultas sehingga menjadi The Best Higher Education yang menjadi tumpuhan banyak pihak, amien

Hikmah dari tamu kita

Banyak hikmah yang dapat diambil dari kunjungan dua tokoh dunia, Dr. Ahmed Mohammad Ali Madani, Presiden Islamic Development Bank dan Prof. Dr. (HC) Dr. Ing. Bachruddin Jusuf Habibie, bapak teknologi Islam di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang pada hari Selasa 10 Mei 2011 tempo hari. Hikmah tersebut mengandung berbagai tuntutan, peluang, dan tantangan bagi sivitas akademika UIN Maliki Malang dalam memegang amanah pengelolaan dan pengembangan kampus menuju “The Real Islamic University”. The Real Islamic University adalah ungkapan singkat yang pernah disampaikan oleh Prof. Drs. H. Malik Fajar, M.Sc an. Presiden RI yang ketika itu sebagai an intrem Menkokesra RI dalam sambutan Peresmian Universitas Islam Negeri (UIN) Malang tahun 2004.

Tuntutan, peluang dan tantangan yang harus dipahami secara bersama oleh keluarga besar sivitas akademika, bahwa UIN Maliki Malang mempunyai cita-cita besar, tidak hanya terbaik di level nasional (Indonesia) tetapi juga sejajar dan diperhitungkan di level dunia sebagai The Real Islamic University. Cita-cita ini sudah dicangkan sejak akhir tahun 1997 dalam beberapa diskusi (yang seringkali dilakukan secara informal) kemudian dituangkan dalam dokumen RENSTRA 10 TAHUN KE DEPAN STAIN MALANG (1998-2008)); yaitu setelah ada kebijakan pemerintah tentang alih status dari Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel di Malang ke STAIN Malang. Peluang besar yang tidak kita sia-siakan, karena di dalamnya terkandung aspek otonomi dalam pengelolaan dan pengembangan setelah sekitar 4 (empat) dekade (1961-1997) bergantung pada kebijakan IAIN Sunan Ampel Surabaya sebagai induk lembaga.

Perguruan tinggi, seperti kita fahami bersama, mempunyai dua tugas pokok. Di satu fihak kita dituntut untuk mendidik para putera bangsa agar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang termutahkir, yang mengharuskan setiap perguruan tinggi untuk selalu mempersiapkan tenaga kependidikan yang terbaik serta fasilitas pendukung yang tercanggih. Di lain fihak, dalam konteks Indonesia, kita juga memiliki kewajiban sosial yang tidak kalah pentingnya, yakni menjadi lokomotif pembangunan umat, termasuk mempersiapkan anak didik kita untuk menjadi calon-calon pimpinan bangsa yang bermoral tinggi, berakhlaqul kariah, beradab dan berbudaya.

Persoalannya adalah seberapa siap kita melaksanakan tugas mulia ini ? Saya khawatir, berbagai kendala birokratis, perilaku kepemimpinan, budaya kerja warga kampus yang ada saat ini dalam merealisasikan program spektakuler tersebut justru membelenggu pemikiran-pemikiran yang menjangkau jauh ke depan. Mantan Menteri Pendidikan Dr. Daoed Joesoef, dalam salah satu tulisannya, menggambarkan bahwa sebagai bangsa kita menderita myopia temporal. Akibatnya, kita tidak mampu memahami masalah-masalah yang dihadapi bangsa dalam perspektif jangka panjang. Sebagai bangsa kita terjebak dalam carut-marut permasalahan saat ini dan lupa bahwa setiap tindakan yang kita lalukan untuk mengatasi permasalahan jangka pendek mempunyai dampak positif dan negatif di masa depan. Karena implikasi tindakan jangka panjang kurang dipertimbangkan, seringkali solusi jangka pendek berkembang menjadi masalah baru pada jangka panjang, sehingga menjadi beban generasi berikutnya.

Pada kurun waktu 10-15 tahun ke depan, perguruan tinggi Indonesia akan menghadapi berbagai tantangan besar yang perlu di respons dengan bijaksana. Globalisasi ekonomi dan revolusi teknologi informasi adalah dua kekuatan besar yang amat mempengaruhi dunia penguruan tinggi Indonesia. Kalau lembaga pendidikan tinggi nasional tidak mampu merespons tantangan globalisasi ini dengan memadai, diperkirakan lembaga tersebut akan tidak mampu mempertahankan eksistensinya di masyarakat dan secara pelan tetapi pasti akan kehilanganan peranannya. Mudah-mudahan ramalan yang pesimistis ini tidak perlu terjadi asal kita mampu mengembangkan strategi-strategi survival yang tepat.

Dunia pendidikan tinggi yang menganut faham universialisme ilmu pengetahuan dan teknologi sebenarnya selalu memperhatikan dan pertimbangan bahwa masyarakat pendidikan Indonesia adalah bagian dari masyarakat global. Proses seperti ini oleh Beck disebut globalitas yang sudah berlangsung sejak lama dalam dunia pendidikan maupun dalam perdagangan intenasional. Tetapi dalam perkembangan yang terjadi sejak 1970an globalisasi berkembang menjadi “the process through which sovereign national states are criss-crossed and undermined by transnational actors – governments or MNCs – with varying prospects of power, orientations, identitities, and networks”.

Dalam proses globalisasi tersebut, dua kekuatan yang amat menentukan adalah kemajuan atau bahkan revolusi teknologi khususnya dalam teknologi informasi dan bioteknologi yang dikuasai oleh perusahaan-perusahan yang memiliki dan menguasai modal finansial dan intelektual. Restrukturisasi sosial-ekonomi yang terjadi di negara-negara maju pada kurun waktu 1980an terjadi karena didorong oleh 2 kekuatan besar yakni kemajuan teknologi informasi dan keputusan perusahaan yang menguasai modal besar.
Untuk memenuhi tuntutan dan memahami peluang dan tantangan sebagai upaya terwujudnya cita-cita besar UIN Maliki Malang sebagai The Real Islamic University dan diperhitungkan di tingkat dunia ada beberapa hal disarankan, yaitu antara lain :
  • Fokus terhadap gawe besar ini, karena issue dan perbincangan di hampir semua perguruan tinggi, baik dalam dan luar negeri selalu mengarah bagaimana perguruan tinggi yang diembannya masuk di daftar perguruan tinggi dunia. Satu hal yang harus dipahami setidaknya ada tiga hal yang menjadi fokus perbincangan dan diwujudkan dalam program prioritas, yaitu ; pertama, soal performance research sebagai core product perguruan tinggi; kedua, soal quality assurrance sebagai pengawal produk, dan yang ketiga soal branding sebagai upaya membangun pemahaman masyarakat terhadap UIN Maliki Malang.
  • Tidak cukup pada tataran perbincangan dan meletakkannya sebagai program prioritas, tetapi betul-betul dilakukan secara sungguh-sungguh dan tidak hanya sebagai kegiatan/program gagah-gagahan, dalam upaya untuk menjadikan UIN Maliki Malang  yang sudah menjadi harapan banyak pihak sebagai sentral pembangunan bangsa yang cerdas dan bermartabat.
  • Komitmen dan konsistensi semua pihak dalam rangka memegang amanat umat ini, mulai dari pimpinan universitas, pimpinan fakultas, pimpinan unit-unit, pimpinan mahasiswa, dan seluruh warga besar kampus ini, karena tanpa komitmen dan konsistensi tersebut mustahil program besar tersebut akan terwujud.

YANG DI DEPAN YANG VISIONER

Semua orang, apapun profesinya yang hidup secara normal di dunia ini pasti menginginkan hidupnya ada peningkatan, yang merasa bodoh ingin pinter, yang merasa miskin ingin kaya, yang lagi sakit ingin sembuh, yang lemah ingin menjadi kuat, dan seterusnya. Kenyataannya sering kali kita mengetahui dan atau kadang mengalaminya sendiri, bahwa tidak serta merta semua keinginan tersebut dapat diraih. Persoalannya adalah mungkin cita-cita tersebut tidak atau belum dibarengi dengan upaya yang sungguh-sungguh, sehingga yang terjadi adalah keputusasaan dan kadang menyalahkan situasi, kondisi dan tidak jarang justru orang lain. Persoalan lainnya adalah mungkin yang bersangkutan belum mengerti dan memahami secara benar tentang potensi yang miliki, kurang bisa memposisikan dirinya sendiri, sehingga tidak tahu dan terlalu risau apa sebenarnya yang harus dilakukan, apalagi upaya menyeleksi peluang yang ada depan mata, bisa dipastikan luput dari perhatiannya. Karenanya, tepat sekali apa yang disampaikan oleh Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo ketika memberi arahan kepada para penerima Surat Keputusan (SK) kenaikan pangkat bagi dosen, calon dosen, dan karyawannya yang berjumlah sekitar 150-an personel pada hari Rabu, 8 Juni 2011 pukul 13.00-16.00 wib di kampus tercinta. Tradisi bagus yang selalu dilakukan di kampus ini, yaitu Rektor memberikan SK secara langsung kepada penerima sekaligus memberikan pesan-pesan tentang konsekwensi penerimaan SK untuk peningkatan performent, baik performent personel dari aspek intelektual, emosional dan spiritual yang bersangkutan maupun performent kelembagaan ke arah pengembangan ke depan yang lebih baik dan menjanjikan bagi peningkatan kualitas, martabat, dan kesejahteraan. Disamping itu, Rektor secara telaten mengingatkan model pakaian yang dirasa kurang patut dan mengecek secara langsung kemampuan membaca al-Qur’an terutama bagi penerima SK Calon Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Calon Dosen (Cados) dengan disaksikan oleh para petinggi kampus dan keluarga mereka. Ada beberapa catatan yang saya dapat pada kesempatan ikut menyaksikan pertemuan tersebut dari arahan Rektor, yaitu antara lain; Pertama, kenaikan pangkat pada hakekatnya adalah penghargaan lembaga (UIN Maliki Malang) atas prestasi yang diperoleh oleh seorang Pegawai. Prestasi tersebut tidak hanya diukur dari kinerjanya tetapi yang paling penting adalah diukur dari aspek spiritualitas dan emosional yang bersangkutan; bagaimana solat jama’ahnya, bagaimana membaca al-Qur’anya, dan bagaimana hubungan antar kolega kerjanya. Parameter penilaian ini sebetulnya masih sangat sederhana dan perlu ditingkatkan. Ke depan harus segera dibuat instrumen sebagai parameter yang dapat dipakai sebagai dasar pemberian penghargaan dan kenaikan pangkat bagi setiap personil, dan lebih dari itu dapat dipakai sebagai bahan job analysis. Instrumen tersebut harus dikembangkan dari konsep 4 (empat) kekuatan yang harus dimiliki oleh setiap personil di kampus ini, yaitu kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu, dan kematangan profesional. Arahan di atas mengingatkan saya ketika terlibat diskusi dengan temen-temen di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) UIN Maliki Malang sekitar lima bulan (akhir Januari 2011) yang lalu tentang hal tersebut yang hasilnya juga sudah saya coba komunikasikan dengan Rektor. Argumentasi yang saya sampaikan bahwa sudah banyak sekali konsep dan ide besar yang lahir di kampus ini; tentang ulul albab, integrasi sains dan agama, pohon ilmu, dll. yang memerlukan pengembangan. Bentuk pengembangannya antara lain membuat instrumen sebagai parameter untuk mengetahui tingkat kualitas Sumber Daya Insani (SDI) yang memiliki predikat ulul albab, dst. Argumentasi lainnya adalah cita-cita UIN Maliki Malang untuk menjadi guru dalam pengembangan kampus Islam di Indonesia, memerlukan contoh yang lebih konkrit, karena seringkali kampus lain kesulitan mengikuti perkembangan kampus kita ini. Tidak kalah penting perlu segera dipastikan ada system pembinaan SDM yang sistemik, sehingga control pengembangannya bisa dilakukan secara jelas. Sistem tersebut bisa dimulai dari mapping potensi, kepribadian dan kompetensi seluruh personil, kemudian menentukan materi, pola, dan teknis pelaksanaannya. Kedua, penilaian tentang suasana ruang pertemuan dan justru ini yang menjadi perhatian Rektor, terutama ketika terlihat sebagian besar dari penerima SK yang berjumlah sekitar 150-an itu mengambil tempat duduk di belakang, padahal masih banyak sekali tempat duduk di depan yang kosong. “Wong mau duduk saja belum bisa kok naik pangkat” dan “di belakang itu tanda keterbelakangan, di belakang kok katanya maju” Pernyataan sederhana dari Rektor yang mengandung makna ”peringatan” dan ”sindiran tajam” ini perlu mendapatkan perhatian serius sebagai motivasi dan evaluasi diri dari semua pihak di kampus ini. Lebih dari itu, Rektor meminta kepada Pembantu Rektor bidang Administrasi Umum, Kepala Biro Administrasi Umum, dan sudah tentu kepada personil yang hadir dan yang tidak hadir, agar berikutnya tidak terjadi lagi, dan kalau suasananya masih seperti ini SK akan dibatalkan. Ini peringatan baik dan keras yang sudah barang tentu demi kebaikan bersama. Memang harapan kita : “Semua warga sivitas akademika kita harus berebut menjadi yang terdepan secara proporsinal dan professional. Mengapa ? karena Yang di depan adalah yang visioner. Yang visioner adalah yang maju, dan yang maju adalah yang tambah derajat dan tambah kesejahteraannya.” Sekian, Wallahu a’lam bishshawab. 9 Juni 2011.