Muktamar III IAEI

Muktamar III IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam)dan seminar Ekonomi Islam, dok. Jakarta, 30 April 2015.

IAEI

“Dewan Pimpinan Pusat IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia) Periode 2015-2019”

International Conference on Quality Islamic Higher Education, Jakarta

International Conference on Quality Islamic Higher Education, Diselenggarakan oleh UIN Malang dan UIN Jakarta.

ISESCO

Delegasi RI (Prof. Mansur BAN-PT, Bapak Mizan Kemenag, Dr. HA. Muhtadi Ridwan UIN Malang)di forum para menteri pendidikan tinggi dari 52 negara muslim pada event International conference of research and technologi, ISESCO

Konvensi Kampus IV dan Temu Tahunan Ke-10

Konvensi Kampus IV dan Temu Tahunan Ke-10, Forum Rektor Indonesia 2007, Dok. 16-17 Juli 2007, ITB Bandung.

Tampilkan postingan dengan label Kapita Selecta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapita Selecta. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Juni 2014

Merutinkan Dzikir di Bulan Ramadhan



   Dalam salah satu riwayat sebuah hadis, sahabat bertanya kepada Rasullah SAW tentang dzikir di bulan ramadhan ;"Ya Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Engkau berpisah dari dunia dalam keadaan lisanmu basah dengan berdzikir pada Allah." (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih. Lihat Misykatul Mashobih)

Minggu, 29 Juni 2014

RAMADHAN; Musim Obral Besar Pahala



Bismillahirrahmanirrahim,
Bulan Ramadhan yang penuh hikmah dan maghfirah, tak ubahnya seperti musim obral pahala bagi kaum muslimin. Dalam suatu hadis Nabi SAW diriwayatkan  oleh Ibnu Huzaimah dari sahabat Salman al-Farisi disebutkan bahwa “beramal sunnah pada bulan Ramadhan dinilai laksana beramal fardhu di bulan lain. Sedang beramal fardhu di dalamnya dinilai sama dengan tujuh puluh kali amal fardhu di bulan lain”. Jika ditelusuri kiranya akan banyak didapati obral pahala dari berbagai ibadah di dalamnya.

Jumat, 27 Juni 2014

PUASA WARISAN AJARAN UNIVERSAL



Bismillahirrahmanirrahim,
Puasa dalam bahasa Arab disebut shiyam atau shaum berarti menahan diri dari suatu perbuatan. Menurut istilah hukum Islam, “puasa berarti menahan atau mengendalikan diri dari makan, minum, seks, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan dari terbit fajar sampai terbenam matahari”.

Sabtu, 16 Maret 2013

KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA


KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA DAN BEBERAPA LANGKAH
SOLUTIF-IMPLEMENTATIF MENGATASINYA*

Dua hari berturut-turut (19-20 April 2011) Radar Malang merilis tragedi/peristiwa yang mengejutkan banyak pihak, yaitu hilangnya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang dicurigai menjadi korban pencucian otak bermodus agama oleh sekelompok orang yang diduga tergabung dalam organisasi Negara Islam Indonesia (NII). Berita tragedy ini menjadi perhatian sekaligus keprihatinan banyak pihak, setalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Malang Senin (18/4) mengadakan komperensi pers tentang upaya melakukan penelusuran kasus hilangnya mahasiswa UMM tersebut.

Jumat, 15 Maret 2013

PLURALISME KEBANGSAAN

PLURALISME KEBANGSAAN

1.      Pluralisme  berasal dari kata plural yang berarti banyak, adalah suatu faham yang mengakui bahwa terdapat berbagai faham atau entitas yang tidak tergantung yang satu dari yang lain. Masing-masing faham atau entitas berdiri sendiri tidak terikat satu sama lain, sehingga tidak perlu adanya substansi pengganti yang mensubstitusi faham-faham atau berbagai entitas tersebut. Salah satu contoh misal di Indonesia terdapat ratusan suku bangsa. Menurut faham pluralisme setiap suku bangsa dibiarkan berdiri sendiri lepas yang satu dari yang lain, tidak perlu adanya substansi lain, misal yang namanya bangsa, yang mereduksi eksistensi suku-suku bangsa tersebut.

Rabu, 13 Maret 2013

MEMBENTUK PRIBADI MUSLIM MARHAMAH (Upaya Proteksi Radikalisasi)

A.   PENDAHULUAN
Kehadiran ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ke muka bumi ini diharapkan dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang damai dan sejahtera  lahir dan batin. Dalam risalah ajaran Islam terdapat berbagai petunjuk bagi umat manusia, bagaimana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna. Petunjuk-petunjuk tersebut tertuang secara jelas dalam sumber ajaran Islam, yakni al-Qur`an dan Hadits.

NYAI GEDE PINATIH (Pengasuh Sunan Giri Gresik)

Beliau mempunyai banyak nama, yaitu antara lain Nyai Ageng Samboja, Nyai Gede Pinatih, Nyai Ageng Maloka, Nyai Salamah, dan Nyai Gede Tandes.

Menurut studi sejarawan Singapura bernama Chen Yu Sung dinyatakan bahwa ayah Nyai Gede Pinatih adalah utusan yang diangkat oleh raja Majapahit di Palembang untuk mengurus soal keagamaan dan administrasi kenegaraan di Palembang setelah jatuhnya kerajaan Sriwijaya.

Pada tahun 1407 M Dinasti Ming merestui dan memberi pengakuan bahwa beliau adalah sebagai agamawan dan negarawan di Palembang. Setelah beliau wafat jabatannya digantikan oleh putra kedua-nya, karena anak pertama-nya putri bernama Pinatih. Akhirnya Pinatih meninggalkan Palembang menuju Jawa, tepatnya di kota Gresik pada tahun 1413 M dan wafat di kota yang sama pada tahun 1478 M (12/13 Syawal), kemudian dimakamkan di kampung Kebungson Gresik.

Nyai Gede Pinatih menemukan Sunan Giri pada tahun 1443 M (Syekh Muhammad Shobar dan Syekh Muhammad Shobir yang menemukannya dalam peti di tengah laut). Karena Sunan Giri ditemukan di laut Nyai Gede Pinatih memberi nama Joko Samodro.

Nyai Gede Pinatih ketika mangasuh dan menyusui si kecil Joko Samodro setelah 30 tahun berada di Gresik. Tempat menyusuinya dikenal dengan kampung Pesuson atau Kebungson, tempat beliau dimakamkan yang juga dikenal dengan Pesarean Nyai Gede Pinatih Pengasuh Sunan Giri.

Kiprah dan predikat Nyai Gede Pinatih, antara lain adalah; 1) sebagai pedagang yang ulet dan ulung, mempunyai banyai perahu Koci, 2) penyebar agama Islam di jawa, 3) Jutawan yang dermawan, 4) pendidik yang mampu mengantarkan putra angkatnya (Sunan Giri) menjadi ulama besar, 5) Mar’atus sholihah yang paripurna dengan julukan “Grand Lady of Gresik”, dan 6) diangkat oleh raja Majapahit sebagai Syahbandar di Gresik.

Malang, 5 November 2012 HA. Muhtadi Ridwan

Senin, 11 Maret 2013

PENDIDIKAN YANG NGU-WONG-KÉ

 PENDIDIKAN YANG NGU-WONG-KÉ

Howard Gardner, ahli pendidikan paling terkemuka dari Harvard University dalam buku mutakhirnya yang berjudul Truth, Beauty, and Goodness Reframed, Educating for the Virtues in the Twenty First Century seolah menyesali pemikiran-pemikiran pendidikannya sendiri yang terdahulu. Pemikiran terdahulu dia yang sangat revolusioner di dunia pendidikan adalah paradigma kecerdasan majemuk (multiple intelligences).

Cuci otak atas nama Keagamaan

Seminggu terakhir, Malang diguncang “gempa” munculnya kelompok Negara Islam Indonesia (NII) yang sebenarnya bukanlah hal baru. “Gempa” itu muncul setalah sahabat-sahabat PMII cabang Malang mengungkap adanya upaya pencucian otak dengan modus agama pada beberapa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Perkembangan isu ini terus berlanjut. Semua media yang terbit di Malang memburu setiap informasi yang berkaitan dengan NII itu. Bukan tanpa alasan media menelusuri kebenaran apakah orang-orang yang ada di balik dugaan pencucian otak itu orang NII atau bukan.

Tentu, media ingin membuktikan apa benar di Malang yang terkenal damai dan tentram ini jadi sarang NII laiknya beberapa kota di Jawa Barat. Apalagi sampai kini masih ada mahasiswa UMM yang belum diketahui keberadaannya dalam kasus yang melibatkan kekerasan agama ini.

Dalam konteks sosial, melabelkan agama sebagai salah satu varian potensial pemicu kekerasan, dalam banyak aspek tidaklah rasional. Karena tidak satupun agama secara normatif mengajarkan perilaku kekerasan itu, baik kekerasan terhadap sesama pemeluk agama maupun antarpemeluk agama. Pesan-pesan ideal masing-masing ajaran agama tersebut pada hakikatnya lebih menekankan sikap damai, kasih sayang, toleran, solider, egaliter, dan keadilan.

Namun demikian, fakta sosiologis selalu menunjukkan praktik yang sebaliknya, yaitu adanya  perilaku keagamaan maupun keberagamaan yang timpang. Ketimpangan tersebut, tidak menutup kemungkinan berakar dari faktor cara pemahaman agama yang sangat literalis dan skripturalis. Sebuah pemahaman keagamaan yang  memicu munculnya  kelompok-kelompok konservatisme, puritanisme, dan radikalisme, yang oleh kalangan islamist disejajarkan dengan gerakan fundamentalisme Kristen awal abad 20-an.

Fenomena kekerasan atas nama agama ini tidak saja terjadi dalam kawasan lokal di Indonesia, tetapi hampir menyeluruh kawasan dunia. Di Eropa misalnya, kita kenal dengan ethnic cleansing islam yang dilakukan oleh pemeluk Kristen Bosnia dan Kroasia. Di Irlandia, konflik terjadi antara pemeluk Kristen Katolik dan Kristen Anglikan. Di Benua Asia, konflik terjadi antara Agama Hindu dan Agama Islam dalam hal ini  di India. Sementara di benua Afrika, terjadi konflik internal di kalangan Kristen Rwanda. Konflik Islam dan Nasrani di Filipina, Yaman, Sudan dan Indonesia, dan lebih fatal lagi konflik terjadi antar tiga pemeluk agama yang berbeda, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi tepatnya di Libanon.

Dalam konteks keindonesiaan, kekerasan antar pemeluk agama juga terjadi pada gejala-gejala kekerasan yang terdapat di Purwokerto awal November 1995, Akhir Nopember 1995 dan April 1997 di Pekalongan, Tasikmalaya, September 1996, Situbondo, Oktober 1996, Rengas Dengklok, Januari 1997, Sampang dan Bangkalan Mei 1997, Medan, April 1996, Tanah Abang, Agustus 1997, Mataram, September 1997, Flores dan Subang, Agustus 1997, Konflik antara FPI versus Ahmadiyah, FKBP versus FPI sekitar tahun 2010.

Demikian juga peristiwa terorisme, seperti pembajakan atas nama jihad Garuda Indonesia Penerbangan 206-1981, Bom Candi Borobudur 1985, Bom Kedubes Filipina 2000, Bom Bursa Efek Jakarta 2000, Bom malam Natal 2000, Bom Plaza Atrium 2001, Bom Gereja Santa Anna dan HKBP 2001, Bom Tahun Baru 2002, Bom Bali 2002, Bom McDonald’s Makassar 2002, Bom Kompleks Mabes Polri 2003, Bom Bandara Soekarno-Hatta 2003, Bom JW Marriott 2003, Bom Palopo 2004, Bom Kedubes Australia 2004, Bom Bali 2005, Bom Tentena 2005, Bom Palu 2005, Bom Jakarta 2009, dan Bom Cirebon 2011. Semua peristiwa di atas acapkali dianggap sebagai fenomena kekerasan atas nama agama oleh perkembangan sosial di sekitarnya.

Selain latar belakang cara pemahaman keagamaan di atas, banyak teori lain yang dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa kekerasan atas nama agama ini tumbuh subur di Indonesia, baik teori ekonomi (kemiskinan), psikologi (marginalisasi),  pendidikan (keterbelakangan), politik (pemerintah yang KKN), sosial (globalisasi), maupun budaya (sekuler).

Bukan Isu Tunggal

Atas dasar ini, kekerasan atas nama agama bukanlah isu tunggal melainkan sebagai isu plural dan global. Ia tidak saja berkembang di Indonesia, tetapi juga berkembang di dunia luas. kekerasan atas nama agama yang melahirkan gerakan sosial teroris ini, kini bukan dianggap sebagai hal baru khususnya di mata masyarakat Indonesia dan dunia pada umumnya.

Sebab efek gerakan terorisme ini  bagi masyarakat secara umum tidaklah sederhana. Dari hasil pembacaan secara psikologis gerakan terorisme agama telah menyebabkan rasa tidak aman dan sikap ketakutan secara masal bagi bangsa Indonesia. Sedangkan secara politis gerakan terorisme agama ini juga telah merugikan upaya-upaya diplomasi secara internasional, secara ekonomis terorisme dituding telah menggagalkan langkah-langkah perdagangan secara internasional, sementara itu, cost dan resistensi sosial yang  harus ditanggung  dari gerakan terorisme ini sangatlah tinggi, belum lagi ketika gerakan teorisme ini telah mengancam eksistensi empat (4) pilar suatu bangsa, yaitu Pancasila, UUD ’45, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI.

Mengingat sedemikian resistennya kekerasan atas nama agama bagi masyarakat Indonesia secara luas, maka dipandang perlu untuk segera dicari berbagai langkah upaya deradikalisasi agama secara solutif dan implementatif, yaitu antara,

Pertama, di tingkat antar lembaga, sangat perlu kerja integratif antara lembaga pendidikan, ormas-ormas keagamaan, pemerintah dan semua yang terkait dalam upaya menanggulangi dan meminimalisir gerakan kekerasan atas nama agama.

Kedua, di tingkat regulator, sangat perlu mengkaji ulang UU tindak pidana teroris No. 15 pasal 45 2003 tentang kriminalisasi atau perluasan objek hukum dan perbaikan mekanisme hukum.

Ketiga, di tingkat lembaga pendidikan, Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama perlu didorong untuk memberikan materi pelajaran multikulturalisme, anti terorisme, anti militanisme, anti ekstrimisme, dan Islam rahmatan li al-‘alamin di semua jenjang pendidikan.

Keempat, para elit semua sektor wajib mengoptimalkan berbagai ruang budaya sebagai media terciptanya pola hidup egaliter, gotong royong, toleransi, rukun, saling menghormati dan menghargai masing-masing perbedaan, dan

Kelima, Mengatasi akar-akar permasalahan yang dapat menumbuhkan tindak kekerasan dan kekerasan atas nama agama, baik yang berupa persoalan ekonomi, budaya, politik, social maupun psikologis.

Malang, 20 April 2011

HA. Muhtadi RidwanPemerhati Perilaku Sosial Keagamaan

Mengabdi di rakyat kecil dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Rabu, 06 Maret 2013

MENGAPA PERLU BERORGANISASI

Keadaan dunia yang tidak semakin mudah membuat persaingan hidup semakin sengit. Hanya orang-orang berkualitas tinggi dan memiliki keunggulan di bidang tertentulah yang akan meraih kesuksesan di zaman sekarang. Tidak ada seorangpun dalam kehidupannya yang tidak bertujuan untuk memperoleh kebahagiaan/kesuksesan. Hal ini ditandai oleh setiap kali berdo’a “agar mendapatkan kebahagiaan/kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat kelak”. Untuk mencapai kebahagiaan/kesuksesan dalam hidup tidaklah semuda yang diangankan, karena memerlukan berbagai upaya. Salah satu upaya dan ini menjadi kunci adalah berusaha menjadi Sumber Daya Insani yang unggul dan diperhitungkan oleh banyak pihak.

Menurut data statistic yang dirilis oleh Human Development Report pada laporan hasil resitnya bertema Human Development Index (HDI) 2010 Rankings, kualitas SDM/SDI Indonesia ada pada posisi 108 dari 169 Negara di dunia. Perlu upaya untuk membangun SDI yang berkualitas, dan harus dimulai dari kesadaran sendiri.

Membangun manusia berkualitas berarti membentuk manusia yang utuh dan bernilai positif yang dapat dilihat mulai dari aspek yang relatif mudah dibangun sampai ke aspek yang lebih rumit dan sukar dibangun atau membutuhkan waktu bangun yang relatif lama, yaitu mulai dari aspek fisik sampai kepada aspek akhlak atau moral, dengan memahami indikator berkualitas.
Indikator kualitas yang dimaksudkan antara lain :
  1.  Berstamina tinggi sehingga mampun kerja keras
  2.  Tangguh dan Ulet dalam menghadapi persoalan
  3.  Cerdas berpikir dan bertindak
  4.  Trampil dan memiliki kompetensi
  5.  Mandiri
  6.  Memiliki tanggung jawab
  7.  Produktif
  8.  Kreatif
  9.  Inovatif
  10.  Beorientasi ke masa depan
  11.  Disiplin
  12.  Berbudi
Apabila digali lebih lanjut, masih banyak hal yang dapat menggambarkan kualitas prima manusia secara umum, namun kita belum tentu memiliki semua sifat yang menggambarkan kualitas manusia secara utuh dan lengkap tersebut.

Saran praktis lainnya bagi yang ingin menjadi manusia yang lebih baik, berkualitas, dan unggul, adalah :

    Miliki nilai tambah. Orang yang memiliki nilai tambah dalam hidupnya adalah orang yang berkualitas. Misalnya, di zaman yang makin sulit mendapatkan orang jujur, dan Anda termasuk orang jujur, berarti Anda adalah orang yang memiliki nilai tambah. Hal yang sama berlaku untuk karakter yang lain, misalnya setia, rendah hati, integritas, dan masih banyak lagi yang lainnya. Memiliki nilai tambah juga berarti memberikan lebih dari apa yang diharapkan.
    Jadilah manusia pembelajar. Banyak orang berhenti pada posisi menjadi orang terpelajar kemudian ia berhenti belajar. Beberapa hal dimana yang dapat terus-menerus kita pelajari dan praktikkan adalah belajar untuk tidak menyalahkan (blame) orang lain, situasi, atau kondisi; belajar untuk tidak mencari-cari alasan (excuse); dan belajar untuk tidak menghakimi orang lain (justice).
    Bijaksana dalam membuat pilihan. Sepanjang hidup ini, Anda akan dihadapkan pada pilihan demi pilihan. Satu hal yang mungkin dapat menjadi pertimbangan Anda dalam memilih adalah: pilihlah sesuatu yang menghasilkan, sesuatu yang Anda sukai, dan sesuatu yang paling mudah. Tentu saja, ada kalanya Tuhan akan menghadapkan kita pada hal-hal yang tidak kita sukai, hal yang sulit, bahkan terkesan mustahil. Namun, ketika hal tersebut diizinkan terjadi, pastilah ada anugerah Allah yang akan memampukan Anda untuk melaluinya dan Anda akan keluar sebagai seorang pemenang.

Uraian di atas merupakan cita-cita dan idealisme yang yang didambakan oleh semua orang termasuk kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Idealisme dan cita-cita tersebut ternyata relevan dengan konsep dasar yang dibuat oleh para pendiri PMII. Untuk itu, sebagai kader harus memahami dan menghayati secara benar dan sungguh-sungguh apa hakekat PMII, melalui  refleksi sejarah latarbelakang berdirinya, asas, sifat, dan tujuan organisasi yang kita cintai tersebut. Dengan pemahaman dan penghayatan yang benar tentang organisasi yang dipilihnya, bisa dipastikan seorang kader akan bergerak dan berprilaku sesuai dengan pesan yang terkandung di dalamnya. Akhirnya sebagai kader tentu dapat menentukan pilihan bergabung di suatu organisasi tidak hanya karena ikut-ikutan tetapi dengan pertimbangan yang matang agar loyalitas dan komitmen sebagai kader terbangun secara benar.

Pada kesempatan ini, saya mengajak sahabat-sahabat untuk mencermati kembali, hakekat, latar berdirinya, asas, sifat dan tujuan PMII;

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan salah satu elemen mahasiswa yang terus bercita-cita mewujudkan Indonesia ke depan menjadi lebih baik. PMII berdiri tanggal 17 April 1960 dengan latar belakang situasi politik tahun 1960-an yang mengharuskan mahasiswa turut andil dalam mewarnai kehidupan sosial politik di Indonesia. Pendirian PMII dimotori oleh kalangan muda NU (meskipun di kemudian hari dengan dicetuskannya Deklarasi Murnajati 14 Juli 1972, PMII menyatakan sikap independen dari lembaga NU). Di antara pendirinya adalah Mahbub Djunaidi dan Subhan ZE (seorang jurnalis sekaligus politikus legendaris).

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir karena menjadi suatu kebutuhan dalam menjawab tantangan zaman. Berdirinya organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia bermula dengan adanya hasrat kuat para mahasiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlusssunnah wal Jama’ah.

Dibawah ini adalah beberapa hal yang dapat dikatakan sebagai penyebab berdirinya PMII:

1). Carut marutnya situasi politik bangsa indonesia dalam kurun waktu 1950-1959.
2). Tidak menentunya sistem pemerintahan dan perundang-undangan yang ada.
3). Pisahnya NU dari Masyumi.
4).Tidak enjoynya lagi mahasiswa NU yang tergabung di HMI karena tidak terakomodasinya dan terpinggirkannya mahasiswa NU.
5). Kedekatan HMI dengan salah satu parpol yang ada (Masyumi) yang nota bene HMI adalah underbouw-nya.

Hal-hal tersebut diatas menimbulkan kegelisahan dan keinginan yang kuat dikalangan intelektual-intelektual muda NU untuk mendirikan organisasi sendiri sebagai wahana penyaluran aspirasi dan pengembangan potensi mahasiswa-mahsiswa yang berkultur NU. Disamping itu juga ada hasrat yang kuat dari kalangan mahsiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Asas PMII sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar (AD) Bab II Pasal 2 dijelaskan bahwa PMII berasaskan Pancasila. Sedangkan Bab III Pasal 3 menerangkan PMII bersifat keagamaan, kemahasiswaan, kebangsaan, kemasyarakatan, independensi dan profesional.  Adapun tujuan PMII (Visi) ada dalam Bab IV Pasal 4 yaitu: ”Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.” Sedangkan untuk mewujudkan tujuan tersebut, PMII memiliki misi sebagaimana dalam Bab IV pasal 5, sebagai berikut:

Menghimpun dan membina mahasiswa Islam sesuai dengan sifat dan tujuan PMII serta peraturan perundang-undangan dan paradigma PMII yang berlaku.
Melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam berbagai bidang sesuai dengan asas dan tujuan PMII serta mewujudkan pribadi insan ulul albab.

Sekian, terima kasih. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

Link : Mengapa Perlu Berorganisasi 

Selasa, 05 Maret 2013

Hubungi Saya

Rumah : 

Alamat      : Jl. Sebuku IV No. 11 Malang, Indonesia 65123
Telpon      : (0341) 418925
HP            : 0813-3471-1732
E-Mail      : read_one@feuinmlg.ac.id
                  read_one_feuinmlg@yahoo.co.id
Facebook : Muhtadi Ridwan,
Mail FB    : muhtadi.ridwan@facebook.com
Web         : http://muhtadiridwan.blogspot.com/
                  http://www.muhtadiridwan.com/
                  http://blog.uin-malang.ac.id/muhtadiridwan/

Kantor :

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Jl. Gajayana No. 50 Malang Telp.(0341) 558881; Fax. (0341) 558881
Web: http://fe.uin-malang.ac.id
 
Pengabdian :


YAYASAN ANAK YATIM “ AT-TAUFIQ “
Jalan Sanan No. 70 Telp. (0341) 411105 Malang 65122
E-mail       : attaufiq_mlg@yahoo.co.id
                  yayasan_attaufiqmlg@yahoo.com
Web         : http://attaufiqmlg.wordpress.com/
                  http://attaufiqmlg.blogspot.com/
Facebook : Yayasan At-taufiq Malang