Dialog Kebangsaan dg tema “Membaca Indonesia”

Pembicara –Bpk. Agus Sunyoto (budayawan, pengasuh pondok budaya nusantara, dan pesantren global), -Bpk.Sutiaji (Anggota DPRD kota Malang), -KH. A Muhtadi Ridwan (Dekan Fak.Ekonomi UIN Malang)

Bersama Rektor UIN Maliki Malang Meresmikan Tax Center

“Langkah awal ini menjadi modal untuk menciptakan tenaga ahli perpajakan sekaligus memahami syariah. Dalam waktu yang tidak lama, UIN Maliki akan mampu menghasilkan tenaga ahli atau konsultan pajak yang memahami syariah” kata Dekan FE, Dr. H. Muhtadi Ridwan.

UIN Maliki Masih Layak Bersertifikat Internasional

Perkembangan UIN Malang setelah mendapat ISO 9001:2000 adalah kini UIN Malang sudah mempunyai komitmen dan konsisten menjalankan sistem yang ada, lebih teliti dan mendokumentasikan hal-hal yang telah dilakukan dan apa saja yang akan dilakukan serta dari segi pembelajaran kini sudah ada pemantauan maupun proses evaluasi dan penilaian terhadap dosen, mahasiswa serta staf yang ada

Lokakarya Mata Kuliah Keahlian (Penajaman Kompetensi Utama Program Studi)

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Workshop Pengembangan Akademik (Kurikulum, Buku Ajar dan Mata Kuliah Keahlian)

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 16 Februari 2015

Indonesia Berpartisipasi Pada Seventh Ministerial Conference of Ministers of Higher Education and Scientific Research

Selasa, 23 Desember 2014

​Pada 18-19 Desember 2014, Islamic Educational, Scientific, and Cultural Organization (ISESCO) telah menyelenggarakan the 7th Islamic Conference of Ministers of Higher Education and Scientific Research dengan tema ”Higher Education: Governance, Innovation, and Employability” di Rabat pada 18-19 Desember 2014. Pada konferensi tersebut, Indonesia diwakili oleh delegasi yang dipimpin oleh Prof. Dr. Mansur Mashum (Anggota Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT)) dengan anggota delegasi yaitu Bapak Mizan Sya’roni, M.A. (Kepala Seksi Penjaminan Mutu Kelembagaan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI) dan Dr. A. Muhtadi Ridwan (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), dan didampingi oleh Sdr. Muhammad Hartantyo (Sekretaris III Pensosbud/Protokol KBRI Rabat).
 
Konferensi dibuka oleh Menteri Pendidikan Tinggi dan Riset Kerajaan Maroko, Dr. Lahcen Daoudi, dan dihadiri oleh Dirjen ISESCO Dr. Abdulaziz Othman Altwaijri, Menteri Pendidikan Tinggi dan Riset Republik Sudan Dr. Sumayah Mohamed Ahmed Abu Kashawa, dan OIC Assistant Secretary-General for Science and Technology Mr. Iyad Ameen Madani.
 
Dalam konferensi tersebut, delegasi Indonesia telah menyampaikan statement mengenai kondisi umum pendidikan tinggi di Indonesia, melaporkan bahwa Indonesia telah mengimplementasikan 2 key performance indicator di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, serta menyampaikan keinginan dan kesiapan Indonesia untuk mengembangkan kerja sama dan berpartisipasi dalam berbagai program ISESCO.
 
Indonesia juga telah terpilih sebagai anggota Consultative Council for the Implementation of the Strategy for Science, Technology, and Innovation in Islamic Countries, bersama Maroko, Yordania, Djibouti, Arab Saudi, Azerbaijan, Bangladesh, Uganda, Pantai Gading, dan Mali.
 
Di akhir konferensi, telah disepakati Rabat Declaration on Developing the Higher Education and Scientific Research System in the Muslim World, yang antara lain menyepakati untuk meningkatkan sektor pendidikan tinggi dan mendorong keunggulan ilmiah serta penelitian berkualitas tinggi, dan mengambil tindakan yang tepat untuk menyelaraskan hal-hal tersebut dengan rencana pembangunan sosio-ekonomi nasional negara-negara anggota untuk mengatasi tantangan pembangunan ekonomi, sosial, lingkungan guna menjamin kesejahteraan rakyat.
 
Rabat, 22 Desember 2014
Sumber : http://www.kemlu.go.id/rabat/Pages/Embassies.aspx?IDP=142&l=id

Minggu, 15 Februari 2015

SANG VISIONER

Pemimpin adalah seorang yang mempunyai daya imaginasi dan visioner yang akan menjadi harapan-harapan kedepan.. Visioner berarti adanya upaya untuk dapat mewujudkan mimipi-mimpi dan harapan yang dapat dinikmati oleh semua pihak dan merupakan tonggak sejaarah yang tidak akan luntur oleh bergulirnya waktu. Zun Tsu (filsuf China) mengatakan bahwa seorang pemimpin adalah seseorang yang telah melakukan pekerjaan besar, namun dimulai dari pekerjaan yang kecil ang dilakukan secara istiqomah.

Cermin dari filosifis tersebut dpat diketemukan dalam sosok Dekan Fakultas Ekonomi UIN Malang yaitu Bapak Dr. H.A. Muhtadi Ridwan, MA. Sebagai seorang pimpinan beliau merupakan figur pemimpin yang transformasionalis (meminjam istilah Bass & Avolio). Pemimpin ini adalah mempunyai karakteristik : a) visioner, b). kharismatik, c) idealis, d) motivasi. Kepemimpinan yang visioner dari beliau dapat kita rasakan banayknya ide-ide yang beliau kemukan untuk menjadikan Fakultas Ekonomi UIN Malang unggul dan menjadi harapan masyarakat serta stage holder. Untuk mewujudkan hal tersebut maka menjalin banyak kerjasama dengan berbagai kalangan, seperti lembaga keuangan, perusahaan, serta lembaga pemerintahan. Hal ini idakalan mudah dilaksanakan kalau beliau bukan seorang visioner. 

Kharismatik adalah ciri soerang pemimpin yang benar-benar dihormati oleh berbagai pihak. Beliau dalam memimnpin telah menujukkan sisi-sisi kharismatis yang membuat para bawahan, atasan, dan kolega merasa sungkan untuk berpangku tangan. Memberikan contoh bagaimana seorang harus bekerja dengan sebaik-baiknya.

Idealis   adalah bentuk dari model kepemimpinan yang harus juga dipunyai oleh seorang pemimpin transformasional. Beliau adalah seorang yang idealis, yang meempunyai ide-ide kreatif dan inovatif untuk kemajuan lembaga uyang dipimpinnya. Bahkan beliau juga seringkali emunculkan sesuatu produk/kegiatan yang berbeda dengan lembaga lain. Disamping itu apa yang menjadi keinginan bisa diwujudkan dengan baik.

(Oleh : Achmad Sani S.)
Sumber : Buku Sang Inspirator

“Dekan Koboi”

“Tertawa dengan Siapa saja”. Dr. H.A. Muhtadi Ridwan, M.A (kami menyebut Abah), Beliau merupakan sosok pemimpin yang bisa tertawa dengan siapa saja. Artinya beliau mudah menjalin komunikasi dan persahabatan dengan siapa saja tanpa melihat latar belakang orang yang dihadapinya dan dalam situasi apapun, karena komunikasi adalah salah satu cara bagaimana seseorang dapat mendengar dan didengar ide dan keinginan yang datang dari diri sendiri atau orang lain. P Muhtadi (abah) selalu mendengar dan menerima penilaian, saran, kritikan dan ide dari siapa saja, termasuk dari mahasiswa. Sehingga saya sebagai bawahan tidak mengalami hambatan komunikasi, baik dengan beliau sebagai atasan saya. Bahkan di kampus STAIN – sekarang UIN Malang, tidak ada yang tidak mengenal Abah Muhtadi. Dari cleaning service, tukang kirim kue di lingkungan UIN, mahasiswa, satpam, dosen maupun pimpinan. 

Saya pun demikian, mengenal sosok Dr. HA. Muhtadi Ridwan, MA yang biasa saya panggil Abah Muhtadi itu bukan baru kemarin, tetapi sudah hampir 14 tahun mengenal beliau yakni semenjak saya masuk STAIN Malang tahun 1998. Sepanjang mengenal beliau sebagai Kajur Syariah dan bahkan menjadi PUKET III, beliau termasuk pemimpin yang lain dari pada yang lain, gayanya yang apa adanya, akomodatif dan selalu memberikan palayanan dan perhatian yang lebih kepada staf dan mahasiswa sebagai contoh kita (staf) dalam kegiatan pengembangan jurusan menjadi fakultas, beliau tidak segan untuk makan menjes bersama staff, setiap ada kegiatan yang akan dilakukan selalu memberikan laporan kepada mahasiswa, apapun kegiatan yang akan dan telah dilakukan selalu diberikan kepada mahasiswa. Beliau selalu mengajarkan kepada kita semua cara hidup bermasyarakat, agar selalu “bermanfaat bagi manusia lain”  yang sekaligus menjadi jargon hidup  beliau, bahkan saya sampai lupa, berapa ratus kali beliau mengingatkan saya untuk menerapkan prinsip tersebut. Hal ini selalu dibuktikan beliau dari semenjak permulaan awal pendirian program studi muamalah sebagai cikal bakal FE sekarang, beliau tidak merasa canggung harus makan gorengan menjes sebagai makanan pokok bersama staf (P Fahruddin, P Zainul, P Musleh dan Saya sendiri). Artinya beliau bekerja bukan karena mendapatkan Tunjangan atau mendapatkan SK, namun bekerja karena memiliki amanah dititipi anak didik (mahasiswa/santri) oleh para wali mahasiwa. 

Ada beberapa catatan penting tentang sosok HA. Muhtadi Ridwan yang pernah saya ketahui diantaranya: Pemimpin yang ngayomi, ngayemi, lan nglayani, apa adanya.

Dibanyak institusi pemerintah (tanpa harus menyebut nama), kita terbiasa melihat seorang pemimpin selalu menampilkan gaya kepemimpinan yang cenderung elitis, kurang peduli, dan “sok”, sekaligus menampilkan perilaku moral hazard atau pemimpin yang aji mumpung yaitu pemimpin yang selalu memanfaatkan kekuasaannya untuk dirinya sendiri, “mumpung lagi menjabat” bahkan cenderung menghalalkan segala cara untuk dirinya.  Namun model pemimpin yang seperti itulah yang tidak saya temui pada sosok Abah Muhtadi ini. Beliau memiliki  sikap ngayomi, ngayemi, lan ngayani. 

Ngayomi, atau memberikan perlindungan bukan semata-mata perlindungan terhadap yang bersifat wantah, tetapi lebih bermakna memberikan perlindungan pada rasa batin. Dengan sifat-sifat ngayomi tersebut, seorang pemimpin tidak harus hadir secara fisik memberikan  perlindungan, tetapi semua  kebijakannya memberikan rasa itu.  Beliau tidak pernah menuding-nuding anak buah yang salah di depan umum, namun akan memanggilnya dan memberikan nasehat yang membangun. Jika dengan menuding-nuding anak buah (staf di depan umum bukan lagi sifat ngayomi), tetapi memperlihatkan wajah kekuasaan dan membuat anak buah tidak tentram secara batin.  Ngayemi itu ekspresi dari damai, ikhlas, dan jujur, sehingga ketika seorang pemimpin itu berada dalam kejauhan, tetap saja hadir “rasa anyem” itu. Rasa yang sedemikian ini sangat mahal, dan sangat jarang pemimpin yang mampu melakukan hal ini. Bahkan, yang sering terjadi, dan terlihat adalah hanya dengan wajahnya saja, orang tersebut tidak bisa ngayemi. Apalagi sikap diri, dan kebijakannya. 

Sedangkan ngayani lebih menekankan pada sikap “memberi” kekayaan.  Memberi kekayaan ini sangat salah jika semata-mata diartikan sebagai memberi uang. Pasti bukan ini juga yang dimaksud oleh Abah Muhtadi. Sikap “ngayani” itu bisa ditafsirkan dua sisi, yaitu sikap diri ke dalam diri pribadi, dan sikap diri terhadap orang lain. Sikap diri ke dalam diri pribadi yang ngayani itu adalah  kemampuan memiliki “kekayaan” batin yang tinggi, yang oleh Raden Panji Sosrokartono disebut sebagai “sugih tanpa bandha”.

Pemimpin yang “sugih rasa” itu diekspresikan pada sikap batin seperti sabar, ikhlas, jembare manah, ikut merasakan penderitaan bawahan, bukan sebaliknya ketika ada anak buah salah malah “diumpat-umpat” di keramaian, rapat terbuka, dan sebagainya. Bukankah seharusnya dengan “sugih rasa” itu, seorang pemimpin akan mendatangi anak buah atau keluarganya yang  tersandung masalah hukum misalnya. Memberikan motivasi, dorongan, nggedekke  ati . Bukan sebaliknya dengan mengatakan” rasakna kowe !”.

Sikap “sugih rasa” (ngayani) ini jika terekspresikan keluar, masuk ke dalam pergaulan luas, lebih mencerminkan sikap diri yang andap asor, rendah hati, merasa diri bukanlah yang terbaik, sehingga orang lain tidak merasa “risih”. Pemimpin yang baik sepanjang masa akan mengekspresikan sikap batin, durung gedhe yen durung wani cilik, dan durung dhuwur yen durung wani  endhek. Dengan mengatakan bahwa, ora ana  pemimpin sing jempol kaya aku….Nah, pemimpin tersebut  sedang “merasa “besar. (rumangsa gedhe).

Tidak mudah memposisikan diri sebagai orang biasa atau bawahan disaat menduduki jabatan tertinggi di fakultas, tetapi berbeda dengan sosok yang satu ini, beliau termasuk orang yang pandai memposisikan diri yakni kapan menjadi dekan, kapan menjadi bawahan dan kapan menjadi bapak. Sering kami “gak” enak sendiri dengan beliau tatkala beliau memposisikan sebagai teman bagi dosen dan karyawan. Sering kita ngobrol dan bercanda lepas dengan beliau dan sampai kami tidak sadar kalau orang yang diajak ngobrol tersebut adalah pimpinannya sendiri. 

Paling tidak, pengalaman ter-update (Sabtu, 25 Mei 2013) ketika kita bersama dengan beliau bernostalgia di Lamongan –rumah kelahiran beliau- kita bersenda gurau di tambak ikan milik kakak beliau sambil menjala ikan. Sebenarnya itu masuk dalam agenda rutin kami memancing ikan keliling Jawa Timur, namun beliau menawarkan kepada kita agar mancing di lamongan. bak gayung bersambut, kami pun langsung meng-iya-kan. Sesampai di Lamongan senda gurau terus muncul seakan lupa kesibukan masing-masing di fakultas. Bahkan ketika ikan di tambak tidak mau makan, beliau terjung langusng untuk menjala ikan di tambak, meskipun harus basah kuyup dan belumur lumpur (bukan lumpur LAPINDO lho.heheheheh).. Setelah selesai memancing dan menjala ikan kita mandi bersama di sungai belakang rumah beliau (meskipun saya masih asyik memancing di sungai...... hehehe) tapi suasananya sangat hangat sekali, lagi-lagi serasa lupa kalau yang bersenda gurau itu adalah pimpinan di fakultas. Suasana seperti itulah yang kami inginkan dan sudah sering kami jumpai. Bukan berarti dikemudian hari kita “nglamak” karena seringnya bercanda tetapi semakin memperkuat ta’dzim kita kepada beliau.

Belum lagi terkait dengan performance beliau dibandingkan dengan posisi pimpinan lain di institusi ini, tampak sekali kesederhanaan pada diri beliau, seakan-akan tidak tampak kalau beliau adalah seorang dekan di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Sikap seperti itulah yang selalu tampil dari sosok seorang Dr. HA. Muhtadi Ridwan. Bahkan saya teringat sebutan dari rekan dan kolega Fakultas Ekonomi dari salah satu lembaga Investasi terkenal dengan menyebut beliau sebagai ”DEKAN KOBOI” bukan bermaksud negatif malahan bermaksud positif.  

Koboi artinya walaupun berpakaian dan menggunakan kopiah, namun ide kreatif dan brilian namun pemikira, visi dan misi dan gaya kepemimpinan, serta gaya kerjanya Cekatan dan lincah atau kata orang jawa (cekat-ceket) seperti KOBOI bukan menunggu dan menunggu  mampu memberikan contoh tanpa harus menyuruh,  Beliau tidak segan mengerjakan sendiri pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab staffnya, tanpa menyuruh staffnya untuk bekerja. Bliau bekerja bukan karena mendapatkan SK, atau Tunjangan taua bahkan Bayaran, namun beliau bekerja karena rasa amanah dan tanggung jawab beliau. Mereka berp\kata Adakah KOBOI bekerja karena di bayar??? Tidak, Koboi bekerja karena amanah dan tanggung jawab agar bermanfaat untuk rakyat banyak.

Setelah beliau tidak menjabat lagi menjadi Dekan FE Universitas Islam Negeri Maliki Malang, kita kehilangan sosok pemimpin yang begitu ramah, pengayom, dan visioner, dan tanggap, tanpa menunggu beliau akan action  langsung dan juga bukan tipe pemimpin birokrasi, rapat ini, rapat itu namun tidak terlihat hasilnya. Namun demikian kita terus berharap semoga ide-ide segar, cerdas, brilian dan kiprah beliau secara langsung untuk kemajuan Fakultas Ekonomi UIN Maliki Malang. Saya bingung harus memberikan balasan apa, jika harus diberikan rupiah pun saya pikir tak akan cukup untuk membalas hanya Terima kasih Abah atas semua dedikasi yang besar terhadap Fakultas Ekonomi. Kami akan terus mengambil teladan nya dan kami hanya berdoa Semoga Allah memberikan pahala yang melimpah dan barokah kepada jasa abah Muhtadi serta kepada kita semua…. 

(Oleh : Eko Suprayitno)
Dosen FE UIN Maliki Malang
Sumber : Buku Sang Inspirator

SANG NAHKODA-ku

Bapak. Dr. HA. Muhtadi Ridwan merupakan sosok yang bisa menjadi BAPAK, TEMAN, ATASAN , DAN GURU YANG BAIK. Sosok pemimpin yang ING NGARSO SUNG TULODO, ING MADYO MANGUN KARSO LAN TUT WURI HANDAYANI

(Oleh : AGUS SUCIPTO)
Sumber : Buku Sang Inspirator

SANG “PENCERAH”

Hal yang paling terkesan bagi saya selama kepemimpinan bapak dekan adalah beliau sangat teliti dan detail dalam melakukan pekerjaan. Hal-hal kecil yang orang lain mungkin terlewati, namun beliau tidak. 

Hal ini memberikan pelajaran berharga bagi saya pribadi bahwa kita harus melakukan pekerjaan kita sebaik mungkin tanpa melupakan hal-hal kecil yang sebenarnya penting.

Terkait dengan tugas saya di perpustakaan, saya sangat berterima kasih, bapak telah sangat peduli dengan keberadaan perpustakaan untuk menunjang proses belajar mengajar bagi civitas akademika. Bentuk kepedulian bapak yang sangat berarti bagi kelangsungan perpustakaan adalah dengan mengajukan pegawai kontrak untuk pustakawan. Dan Fakultas Ekonomi merupakan satu-satunya Fakultas yang memiliki pustakawan.

Akhir kata, semoga kita semua dapat mengambil teladan kepemimpinan Pak Muhtadi.Tak lupa saya ucapkan maaf yang sebesar-besarnya jika dalam interaksi selama ini dalam melaksanakan tugas, ada sesuatu yang tidak berkenan di hati Bapak. 

(Oleh : Fitriyah)
Sumber : Buku Sang Inspirator